Penyakit Budaya

Penyakit Budaya

Perubahan sikap hidup yang kurang terkontrol akibat peningkatan status sosial ternyata telah membawa dampak signifikan pada kesehatan kita. Walaupun kita semakin mengerti akan pengaruh makanan yang kita konsumsi setiap harinya telah banyak membuat kita menjadi sakit (penyakit degenerativ khususnya), ternyata hal ini tidak banyak membangun kesadaran kita. Setidaknya, kesadaran yang ada tidak cukup mendorong kita bertindak positif untuk mengambil sikap yang benar.

Adalah satu kenyataan, dengan semakin meningkatnya kualitas penyakit degenerativ seperti jantung koroner, stroke, tekanan darah tinggi, diabetes, kanker dan lainnya tidak dapat diselesaikan dengan obat-obatan hasil teknologi tinggi yang ada. Dengan demikian walaupun kemajuan serta penemuan-penemuan baru obat-obatan degenerativ selalu terjadi, tetapi keterbatasannya dalam menanggulangi penyakit yang ada semakin terbatas. Gambaran inilah yang telah menunjukkan pada kita, bahwa penyakit degenerativ telah melaju dengan kecepatan luar biasa tanpa kita mampu menanggulanginya.

Secara singkat, penyakit-penyakit degenerativ adalah penyakit budaya yang sebagian besar timbul karena diri sendiri melalui cara kita makan, minum, merokok, kurang olah raga dan sebagainya. Jadi apa yang kita lakukan setiap jam, setiap hari mempunyai peran sangat besar dalam menentukan kesehatan kita, apakah kita akan sakit, menderita penyakit bahkan kematian. Tidaklah terlalu berlebihan bila dikatakan, bahwa tanpa disadari kita sedang melakukan bunuh diri beramai-ramai.

Makanan Kita Padat Kalori Tetapi Kurang Gizi

Dengan meningkatnya standar ekonomi, pola hidup kita juga akan berubah. Makananpun mulai bergeser ke arah menu makanan masyarakat industri yang lebih “modern”. Padahal makanan gaya “modern” ini pada umumnya padat kalori terutama dari lemak dan gula, tetapi gizi yang terkandung tidak seimbang. Arah dan perkembangan ini memang sangat kondusif. Setiap hari kita selalu dipenuhi oleh iklan-ilkan makanan tanpa sempat mencerna dengan baik apa akibat makanan tersebut bagi kita. Dan makanan yang paling tidak bergizi dan paling banyak mengandung gula adalah makanan yang paling banyak diiklankan. Dan gula apapun namanya, baik sucrose, dextrose, glucose, lactose, maltose, fructose, madu, sirup jagung, ataupun tebu, semuanya adalah gula, kaya akan kalori, tidak bergizi dan membuat gemuk. Padahal, kebanyakan makanan yang berasal dari tumbuhan hanya sedikit mengandung lemak. Tetapi teknologi modern melalui proses kimia mampu mengambil lemak alami ini dan mengolahnya menjadi minyak. Penambahan minyak yang padat kalori ke dalam makanan olahan sangat meningkatkan kalori makanan tersebut.

Problem Kegemukan

Sangat banyak penyakit degenerativ dimulai dengan kegemukan. Sedangkan kegemukan pada dasarnya hanya satu: “Kalori yang masuk lebih tinggi dari kalori yang terpakai”. Kelebihan kalori ini disimpan sebagai lemak (triglycerides), tidak soal apakah berasal dari gula, protein, tepung atau lemak. Ia akan tersimpan dalam gudang lemak. Dan gudang ini cenderung membuka cabang-cabang baru, terutama didalam dan di sekitar bagian tengah tubuh kita. Dalam hal penyimpanan lemak ini, tubuh kita tidak terhenti disitu saja. Lemak-lemak ini harus dijaga jangan sampai rusak. Untuk keperluan penjagaannya dibentuklah pembuluh-pembuluh darah baru. Dengan demikian kerja tubuh kita, terutama jantung juga akan lebih berat karenanya. Kondisi ini tentu sangat tidak menguntungkan bagi mereka yang mengalami tekanan darah tinggi, aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah jantung) dan lainnya. Menghindarai kegemukan, terutama demi kesehatan kita tentu selalu dianjurkan. Sebagai tes sederhana dapat kita pakai “pinch an inch - cubitan seinci - Bila kita dapat mencubit satu inci (2,54 cm) lemak dari bagian bawah rusuk, maka kita telah kelebihan berat badan

Makanlah dengan Bijaksana

Sebenarnya tubuh kita telah dirancang begitu rupa, sehingga mampu menghadapi hal-hal yang ada di sekeliling kita, termasuk perubahan-perubahan. Evolusi yang terjadi merupakan bukti kecanggihan tubuh kita. Hanya yang perlu kita ingat, bahwa evolusi sendiri memerlukan waktu yang tak terbayangkan lamanya. Kita tidak bisa mengharap, bahwa cepatnya perubahan dapat di selesaikan dengan evolusi.

Sebenarnya sudah tidak dapat disangkal lagi, bahwa perubahan sikap hidup, terutama menu makanan, telah banyak mempengaruhi kesehatan kita. Untuk itu, makanlah yang bijaksana. Makanan yang bijaksana ialah menu makanan yang sejak dahulu selalu disiapkan oleh nenek-nenek kita. Makanan yang alami. Perbanyak makanan dari unsur nabati dan jangan diolah secara berlebihan. Gunakan bumbu-bumbu yang alami pula. Makanan demikian banyak mengandung serat yang oleh tubuh kita sangat diperlukan. Selain itu antara kalori yang terkandung dengan vitamin, mineral dan lainnya seimbang. Produk hewani adalah makanan yang sangat padat kalori. Mereka tidak mengandung serat.

Kita sering khawatir, apakah menu tanpa daging yang banyak dapat membuat kita sehat. Bahkan untuk anak-anak kita, kita sering memberikan daging dan susu yang berlebihan dengan alasan masa pertumbuhan. Tanpa kita sadari daging dan susu yang selalu kita ambil berasal dari industri yang sistem pengelolaannya sering tidak dapat dipertanggung jawabkan. Sebenarnya kita telah mengarahkan anak kita, yang pada gilirannya nanti menjadi pelanggan setia penyakit-penyakit degenerativ.

Keinginan merubah sikap memang diperlukan. Banyak dari kita yang telah sadar akan pentingnya kesehatan dan telah tahu bagaimana sikap kita seharusnya. Tetapi yang paling menentukan adalah langkah pertama. Tanpa langkah pertama semua keinginan akan tiada gunanya.

Gangguan paling besar sebenarnya adalah halangan dari diri sendiri, yaitu keberanian untuk berubah. Kita yakin bahwa berjalan kaki 30 menit setiap hari akan banyak sekali manfaatnya bagi perubahan kesehatan kita. Tetapi setelah kita berhasil bangun pagi dan akan berjalan kaki, kita takut/malu dilihat oleh lingkungan.

Memang kadang kita melihat seseorang yang bersikap kurang memperhatikan kesehatan, tetapi bisa hidup panjang. Didunia ini memang selalu saja ada perkecualian. Tetapi janganlah perkecualian kita jadikan aturan dan alasan. Yang pasti, “Menjaga kesehatan adalah satu iman terhadap Sang Pencipta”

Sumber: naturindonesia.com